Gurl's Translate

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Showing posts with label Wisata. Show all posts
Showing posts with label Wisata. Show all posts

Friday, January 24, 2014


Pantai Ora ada di Taman Nasional Manusela, Pulau Seram, Maluku. Banyak pejalan yang menamai keindahan pantai Ora di Maluku seperti surga. Yang lain, menyebutnya mirip Maladewa.

Hamparan terumbu karang aneka warna sudah bisa terlihat dari dermaga. Tunggu hari berganti malam dan sepotong senja yang memesona bisa dinikmati langsung dari jendela kamar. Luar biasa, ya?

Di Ora, kamu bisa snorkeling, bermain-main dengan ikan karang aneka warna. Atau sekadar duduk-duduk saja di dermaga, membiarkan waktu berlalu dan kamu tak akan merasa kehilangan apa-apa.

Sementara ini, belum ada dive center sehingga tak memungkinkan aktivitas scuba diving. Tapi kamu bisa menyibukkan diri dengan keliling taman nasional ini menggunakan kapal bermotor.

Taman Nasional Manusela ialah rumah bagi 117 spesies burung, antara lain Nuri Bayan dan Kakatua Maluku. Jika punya waktu panjang, sekalian saja beraktivitas di sana. Bisa jelajah hutan, main ke air terjun, bahkan panjat tebing.

Kalau sudah kebelet ke Ora, nabung dulu deh. Sebab waktu terbaik ke Ora ialah bulan April hingga Agustus, ketika perairan begitu jernih dan cuaca bersahabat. Jadi masih ada waktu buat menyiapkan dana menengok sekeping surga di nusantara ini.


Untuk menginap di Ora Beach Resort, siapkan sekitar Rp1-1,5 juta per orang per hari. Itu adalah biaya menginap dan makan tiga kali sehari, plus transportasi langsung dari Ambon . Di Ora tak ada warung makan, jadi mau tak mau, serahkan nasib lidah kepada pengelola resor. Jika butuh cemilan, siap-siap bawa stok jajanan sendiri. Nah, tinggal hitung saja, mau berapa hari di Ora? Semalam saja sih kurang, ya.

Saat ini kapasitas Ora Beach Resort ialah 10 pondok di atas laut dan 4 lainnya di daratan. Pada bulan-bulan kunjungan terbaik, tempat ini sering full. Apakah ada pilihan lain untuk menginap? Jika kepepet, bisa menginap di sejumlah homestay di Sawai, desa terdekat. Dari Sawai, cukup menyeberang sekitar 10 menit ke dermaga Ora Beach Resort, menggunakan kapal kecil.

1) Air Terjun Gua Pule Jajar


Bukit-bukit karst di Gunungkidul menyimpan potensi gua yang melimpah. Gua Pule Jajar di Desa Jepitu, Kecamatan Giri Subo, Kabupaten Gunungkidul salah satunya. Dari ibu kota Yogyakarta, gua tersebut berjarak sekitar 78 kilometer. Letaknya berdekatan dengan objek wisata Pantai Wedi Ombo.

Salah satu daya tarik Gua Pule Jajar adalah sungai bawah tanah berarus deras dan air terjun setinggi 5 meter. Pintu masuk gua berupa celah vertikal yang berukuran sempit. Semakin ke dalam, lorongnya bertambah sempit, pengap, dan berlumpur. Hanya orang-orang berpostur kecil yang dapat dengan mudah menjelajah lorong tersebut. Lorong masuk itu berujung di lorong utama yang luas dan dialiri sungai berarus deras. Dari sungai tersebut, perjalanan menuju air terjun tinggal 10 menit lagi.

Saat ini, Gua Pule Jajar masih dalam tahap eksplorasi. Pengunjung yang datang ke gua ini umumnya adalah mahasiswa pencinta alam dan kalangan speleolog yang berusaha mempelajari gua dan lingkungannya.

2) Air Terjun Gua Seropan


Masih di Gunungkidul, tepatnya di Desa Semuluh, Kecamatan Semaun, terdapat gua sepanjang 888 meter bernama Gua Seropan. Gua yang terbentuk pada kedalaman 60 meter di bawah permukaan tanah ini memiliki air terjun setinggi 7 meter yang potensial dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik mikrohidro.

3) Air Terjun Gua Cerme 


Gua Cerme terletak di Dusun Srunggo, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Berjarak sekitar 22 kilometer dari Kota Yogyakarta. Adapun air terjun yang terdapat dalam salah satu kamar di Gua Cerme bernama air terjun Grojogan Sewu.

Gua sepanjang 1.300 meter ini memiliki dua pintu masuk, yakni melalui Luweng Ploso di Desa Giritirto, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul dan melalui jalur yang biasa dipakai oleh wisatawan yang berada tepat di mulut Gua Cerme.

Untuk masuk ke gua ini, pengunjung perlu peralatan khusus seperti helm speleo dan senter. Pengunjung juga perlu didampingi orang yang mengenal betul lorong-lorong di dalam gua, sebab ada banyak simpangan yang cukup menyesatkan. Antara lain percabangan di Gua Pandu, di bawah air terjun Grojogan Sewu, dan lorong buntu Air Suci.

Nama cerme kabarnya diambil dari kata ceramah. Sebab gua ini pernah menjadi tempat pertemuan para wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa. Sejak tahun 1980-an, Gua Cerme sudah dikenal sebagai gua wisata.


Benteng ini merupakan peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo yang didirikan pada tahun 1545. Awalnya bernama Benteng Ujung Pandang, namun karena pada akhirnya benteng ini jatuh ke tangan Belanda, akhirnya diubah menjadi Fort Rotterdam.

Fort Rotterdam terletak sekitar 1,5 kilometer dari pusat kota, di bibir pantai barat menghadap Selat Makassar. Tepatnya di Jalan Ujung Pandang Nomer 2. Benteng ini merupakan saksi bisu rangkaian momen bersejarah di kota ini, mulai dari kejayaan Kerajaan Gowa di abad ke-16 hingga masa kolonialisasi Belanda.

Bentuk benteng ini terlihat seperti penyu yang hendak menuju lautan. Bentuk yang unik ini bisa dimaknai sebagai gambaran kejayaan Kerajaan Gowa yang wilayah kekuasaannya tersebar di darat dan lautan.


Ada sekitar 100 ruangan di dalam bangunan benteng. Salah satunya dipakai untuk menyekap Pangeran Diponegoro saat kalah dalam perang Jawa melawan Belanda. Di benteng ini pula ia akhirnya meninggal. Di dalam komplek benteng, terdapat bekas penjara Pangeran Diponegoro, yang ditangkap oleh Belanda pada tahun 1845. Ia pun akhirnya dipenjarakan di benteng ini setelah sempat diasingkan ke Manado.

Masih dalam komplek yang sama, terdapat Museum La Galligo yang menyimpan sejarah Gowa-Tallo dan juga daerah-daerah lain di Provinsi Sulawesi Selatan. Kondisi benteng yang masih terjaga, membuat situs sejarah ini menjadi salah satu destinasi utama para wisatawan.

Tiket masuk: Gratis, namun ada dana sumbangan Rp 10.000

Satu lagi yang mendadak ngetop belakangan ini, namanya Tanjung Bira. Traveler yang sudah ke sana menjulukinya surga bahari dengan pasir selembut terigu.


Tanjung Bira terletak di ujung selatan Pulau Sulawesi. Secara administratif masuk wilayah Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Kalau ditotal-total, ada empat cara ke Tanjung Bira. Traveler tinggal sesuaikan dengan kebutuhan.
Bawa keluarga, ingin nyaman, pengen mampir-mampir. Paling ringkas Anda sewa mobil dari Makassar. Harganya lebih-kurang Rp 300 ribu, ini tergantung keahlian untuk urusan tawar-menawar. Perjalanan ke Tanjung Bira makan waktu sekitar 6-8 jam. Sepanjang perjalanan Anda bisa singgah di kota kuda Jeneponto untuk makan coto atau mampir sebentar di Bulukumba untuk menarik uang tunai di mesin ATM. Sebab di Tanjung Bira tidak ada ATM.

Tipe koper, budget bukan penghalang, senang terbang. Sejumlah maskapai terbang reguler ke Bandara Aroepala Selayar. Salah satunya Sabang Merauke Raya Air Charter. Traveler bisa berlibur dulu di Selayar baru menyeberang ke dermaga Tanjung Bira.

Backpacker, budget mepet. Dari Makassar ke Bulukumba tersedia mobil travel (biasanya jenis APV) yang gak pake ribet dan gak pake mahal. Dan, umumnya lebih cepat sampai daripada bis. Harga travel berkisar Rp 60 ribu. Dari Bulukumba, traveler bisa melanjutkan perjalanan dengan menumpang pete-pete ke Tanjung Bira

Berangkat sendiri atau bersama grup kecil, haus petualangan. Kalau Anda tipe begini maka cara terbaik menuju Bira ialah dari Terminal Bis Melengkeri, Makassar. Dari sana bisa naik bis jurusan Selayar. Bis akan berhenti sejenak di dermaga Tanjung Bira, sebelum naik ke kapal feri tujuan Selayar. Saat itu, Anda bisa turun dan berjalan kaki ke objek wisata Pantai Bira. Perlu diingat, bis beroperasi tidak sampai sore. Usahakan sudah sampai terminal sebelum pukul 15.00 waktu setempat.

Tuesday, January 21, 2014

Ini dia, danau-danau menawan di Nusa Tenggara Timur yang penting dipertimbangkan untuk liburan Anda berikutnya. Yuk, simak apa aja.


Danau Kelimutu
Tak jauh dari kota kecil Moni, sekitar 50 kilometer sebelah timur Ende di Pulau Flores, terdapat Kelimutu – gunung berapi dengan tiga danau di puncaknya.
Masyarakat setempat meyakini bahwa setelah meninggal, arwah akan naik ke puncak Kelimutu dan berdiam di ketiga danau tersebut. Tiwu Ata Mbupu adalah danau yang diyakini sebagai tempat berdiam arwah orang tua. Airnya berwarna biru dan berlokasi paling barat di antara ketiganya. Dua danau yang lain, Tiwu Nuwa Muri Koo Fai yang merupakan danau bagi arwah muda-mudi dan Tiwu Ata Polo.
Kalau mau menikmati keindahan Danau Kelimutu, Anda sebaiknya datang subuh sebelum matahari terbit supaya bisa menikmati sunrise di puncak gunung karena mulai pukul 09.00 kabut akan menutupi permukaan danau.

Danau Ranamese
Ranamese, julukannya ‘Kelimutu Kecil’, adalah kawasan wisata alam yang dikelilingi hutan perbukitan. Ingin menjelajah dataran tinggi di Pulau Flores? Ini dia tempatnya. Danau berhawa segar ini juga ideal untuk mengamati burung.
Ranamese yang tenang dan jernih memiliki banyak ikan air tawar dan tanaman air. Monyet liar juga suka bermain ke sekitar pinggiran danau. Di musim hujan, kawasan hutan sekitar Ranamese juga diwarnai oleh anggrek liar. Jangan lupa bawa teropong, supaya kamu bisa melihat satwa dan tumbuhan sepanjang trekking di Ranamese.
Kalau Anda mau melanjutkan wisata ke desa sekitar, ada Teber di Golo Rutuk yang berjarak sekitar 6 kilometer. Tetapi jalan menuju Golo Rutuk rusak, jadi ingat kalau tempatnya sukar dijangkau dengan mobil. Sedangkan, penginapan terdekat baru ada di Borong dan Ruteng.
Tertarik berkunjung ke Ranamese? Ambil jalur Transflores antara Ruteng dan Borong. Nah, Danau Ranamese berjarak sekitar 27 kilometer dari Ruteng dan 37 kilometer dari Borong. Lokasinya cenderung mudah ditemukan sebab gerbang menuju Ranamese dekat sekali dengan jalan utama.

Danau Rana Tonjong
Dalam bahasa Flores, tonjong berarti teratai atau lotus – tanaman air yang cantik dengan kuntum berwarna merah jambu dan daun bulat yang mengambang di permukaan air. Rana Tonjong yang terletak di Desa Nanga Mbeling, Kecamatan Sambi Rampas, sekitar 3 kilometer sebelah utara Pota, Manggarai Timur, NTT, dinamai demikian sebab tempat ini memiliki teratai istimewa.
Lebar daun teratai di danau tersebut bisa mencapai 30 sentimeter. Cantik sekali dan raksasa, apalagi giant lotus seperti di Rana Tonjong hanya endemik di dua tempat, yakni di India dan di wilayah sekitar Rana Tonjong. Setahun sekali, antara April dan Mei, bunga-bunganya merekah dan itulah waktu yang tepat untuk menikmati pesona teratai di Rana Tonjong.
Kalau ingin singgah ke Rana Tonjong, dari Ruteng Anda bisa pergi ke Pota lewat Reo. Dari situ Rana Tonjong berada 3 kilometer di utara Pota.

Danau Nefona
Kalau danau yang satu ini letaknya dekat dengan ibu kota Nusa Tenggara Timur, Kupang. Nefona yang luasnya sekitar 7 hektare berjarak sekitar 80 kilometer dan merupakan danau alami yang terletak di Desa Silu, Kecamatan Fatuleu.
Di Nefona, Anda bisa berenang, piknik, atau mancing sambil menikmati suasana sekitar danau. Yang pengen menjelajah danau bisa ikut perahu motor nelayan.
Air di danau tersebut jernih sekali, sehingga Anda bisa melihat dasarnya. Panorama sekitar Nefona juga menyejukan mata.

Danau Tuadale
Ditumbuhi pepohonan bakau dan habitat buat banyak satwa air, Danau Tuadale yang menawan berlokasi di Silu, Kecamatan Kupang Barat. Dari Kota Kupang, perjalanan ke Suaka Margasatwa Danau Tuadale bisa ditempuh dengan perjalanan darat setengah jam dengan mobil pribadi ke jurusan Tablolong.
Yang suka menjelajah, Anda bisa berkeliling danau dengan sampan. Di tempat ini, hal yang bisa dilakukan antara lain rekreasi, mancing, dan wisata ke hutan bakau. Banyak pengunjung yang datang ke Tuadale lebih senang berkeliling sekitar hutan bakau lalu membeli ikan segar dari nelayan setempat.

Wednesday, December 18, 2013

Di lereng Gunung Lawu di Desa Berjo Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, terdapat sebuah candi yang memiliki struktur bangunan yang sepintas terlihat mirip dengan candi piramid milih suku maya yang tersohor itu. Candi Sukuh namanya, belum begitu dikenal, tapi menyimpan pesona yang eksotis dan tak hanya itu yang paling menarik adalah reliefnya yang dipenuhi dengan relief yang erotis. Mungkin karena letaknya yang terpencil di lereng Gunung Lawu pada ketinggian lebih dari seribu meter dpl, membuat orang-orang belum begitu mengenal candi Sukuh.




Candi Sukuh sering dikatakan sebagai candi yang paling erotis di seluruh dunia, dikarenakan banyaknya patung dan relief lingga dan yoni, baik secara simbolis maupun naturalis. Seperti patung seorang lelaki tanpa kepala sedang melakukan onani, atau sebuah pahatan berbentuk rahim perempuan dengan pahatan-pahatan relief dua sisi (kiri dan kanan). Bagian kiri menggambarkan manusia yang lahir dengan sifat dan perilaku baik, sedangkan bagian kanan sebaliknya.


Candi Sukuh dibangun dalam tiga susunan trap (teras). dimana semakin kebelakang semakin tinggi. Pada teras pertama terdapat gapura utama. Memasuki areal candi (trap pertama), kita akan berjalan ke arah kiri. Di sana terdapat gapura pertama dari Candi Sukuh. Seperti gapura pada umumnya, gapura ini terdiri dari 2 buah bangunan kiri kanan yang menjulang tinggi dilengkapi dengan tangga untuk melewatinya. Namun saat ini gapura ini diberi pagar, sehingga pengunjung tidak bisa melewatinya. Ternyata di sinilah Erotisme pertama bisa kita lihat, yang sebenarnya merupakan symbol tentang ajaran kehidupan yang hakiki serta pada relief berseri menggambarkan cerita Garudeya dan Sudhamala yang mengangkat tema pembebasan.


Selanjutnya kita akan menuju ke trap ke 2 dengan melewati gapura ke 2. Kondisi kedua gapura ini sudah tidak utuh lagi. Bentuknya lebih menyerupai tumpukan batu andesit berwarna hitam yang memiliki tangga di bagian depannya. Begitupun dengan arca penjaga gapura. Semuanya sudah tidak jelas lagi bentuknya.
Setelah melewati gapura tadi, maka kita akan memasuki trap ke 3.


Di trap terakhir ini terdapat pelataran yang luas dengan bangunan Candi induk di bagian ujungnya. Di Sebelah kiri terdapat barisan patung hewan (babi hutan, gajah) yang berjejer dengan berbagai relief yang indah. Konon relief-relief ini merupakan mitologi utama dari Candi Sukuh.
Candi ini sangat ssederhana dan berisikan sejumlah relief dengan berbagai bentuk. Di antaranya bentuk kelamin laki-laki dan wanita yang dibuat hampir bersentuhan. Pada deretan relief-relief yang menghiasi dinding candi juga digambarkan relief tubuh bidadari dengan posisi “pasrah” serta relief rahim wanita dalam ukuran cukup besar.




Relief-relief seks itu menggambarkan lambang kesucian antara hubungan wanita dan pria yang merupakan cikal bakal kehidupan manusia. Hubungan pria dan wanita melalui relief ini dilambangkan bukan melampiskan hawa nafsu, tapi sangat sakral yang merupakan curahan kasih sayang anak manusia untuk melahirkan sebuah keturunan.


Selain itu sekitar candi juga dipenuhi relief-relief yang satu sama lain tidak berhubungan sehingga menimbulkan banyak ceritera. Kisah-kisah tentang relief itu bisa beragam tergantung persepsi orang-orang sesuai dengan sudut pandangnya. Relief di candi ini menggambarkan cerita yang tidak saling berhubungan.Ada legenda Dewi Uma yang dikutuk suaminya Batara Guru karena berbuat serong dengan seorang penggembala. Ada juga ceritera wanita yang kalah judi lalu dibebaskan di candi ini sehingga bisa masuk sawarga (surga). Legenda warga setempat menyebut candi ini merupakan tempat bertemu dengan roh yang sudah meninggal.


Fasilitas yang terdapat di kompleks wisata Candi Sukuh ini bisa dikatakan masih minim. Di sekitar candi, kita hanya akan menemukan warung kecil di mana kita bisa menikmati minuman hangat, jajanan, dan makanan (nasi rames) dengan menu sederhana, serta beberapa toko kelontong kecil yang menjual makanan dan minuman kemasan. Sehingga disarankan untuk membawa uang cash, pulsa HP, dan mengisi bahan bakar kendaraan dengan cukup sebelum menuju kawasan Candi Sukuh. Mungkin kita juga perlu membawa bekal makanan dan minuman sendiri jika kita menginginkan menu makanan dan minuman tertentu.


Dari titik terakhir yang bisa dijangkau kendaraan roda empat (mobil/bis), kita masih harus menempuh perjalanan sejauh 1,9 km untuk mencapai Candi Sukuh. Kecuali jika kita membawa kendaraan roda dua (motor) sendiri, akan lebih enak untuk menyewa ojek, dikarenakan jalannya yang sangat menanjak. Namun jangan khawatir, kita tidak perlu repot-repot bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan harga dengan tukang ojek. Di sini terpampang jelas tarif resmi ojek ke berbagai tujuan. Untuk ke Candi Sukuh cukup membayar Rp 5.000,-. Harga tiket untuk memasuki Candi Sukuh adalah Rp. 2.500,- untuk orang Indonesia dan Rp. 10.000, - untuk orang asing. (src: berbagai sumber)




Gedung kosong dan berumur puluhan bahkan ratusan tahun, cenderung meninggalkan cerita mistis dan angker. Biasanya cerita, sejarah dan kondisi gedung tersebut sebagai pencetus keangkeran dan kemistisan suasana di dalam gedung. Indonesia sendiri terbilang memiliki banyak gedung tua yang mistis namun bersejarah dan layak untuk dikunjungi. Salah satunya adalah Lawang Sewu yang berada di Semarang, Jawa Tengah, yang merupakan gedung peningggalan dari Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS. Dibangun pada tahun 1904 selesai pada tahun 1907 dan berfungsi sebagai kantor. Terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelmina Plein.

Lawang Sewu dalam bahasa Indonesia berarti "pintu seribu". Faktanya gedung berlantai dua ini tidak memiliki seribu pintu. Bangunan ini memiliki banyak jendela tinggi dan lebar di kedua sayapnya, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu. Di dalam gedungnya sendiri terdapat beberapa ruangan yang tersebar di kedua lantai.


Menurut catatan sejarah, gedung tua ini pernah menjadi lokasi pertempuran berdarah antara pemuda AMKA (Angkatan Muda Kereta Api) melawan Kempetai dan Kidobutai Jepang. Pertempuran ini dikenal dengan Pertempuran Lima Hari di Semarang yang berlangsung pada 14-19 Oktober 1945. Karena nilai sejarahnya inilah, maka pemerintah kota Semarang menjadikan Lawang Sewu sebagai bangunan kuno yang patut dilindungi.

Saat ini, gedung ini sesekali digunakan sebagai halaman sebuah pagelaran besar, dan menurut kabar pernah akan dijadikan hotel. Karena lokasinya yang angker, sineas film menjadikan gedung ini sebagai lokasi syuting dengan judul yang sama dan mengangkat tema film horor.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...